Preloader

Takut itu manusiawi, tapi apa harus terus sembunyi?

Inget banget, waktu masih kecil ga sabar pengen ngerasaiin jadi orang dewasa.
Keliatannya seru aja, gitu. Bisa makan sesukanya, pergi kemana aja dan beli apapun dengan
uang sendiri. Karena begitu ga sabarnya, sampe pernah ngebayangiin kalau udah jadi orang
dewasa, hidup akan seiindah sinteron atau FTV di chanel statusin nasional Indonesia. Tapi,
menginjak SMA kok hidup ga seindah yang dibayangin waktu kecil, ya? Menginjak kuliah,
kok malah makin takut—dan makin sadar, apa yang diimpikan semenjak kecil ternyata cuma
mimpi, khayalan dan imajinasi yang dibentuk oleh sinetron. Sekarang malah takut, takut
gabisa jadi apa-apa.


Makin menginjak usia yang ngenal betapa sulitnya hidup, ketakutan akan gabisa jadi
apa-apa semakin besar, takut ngecewaiin orang tua, takut dipandang rendah orang dan yang
paling buruk adalah takut jadi orang ga berguna dan ngerepotin orang. Sekali pernah teman
ngomong ke saya “gue gapapa ga berguna, tapi seenggaknya gue coba buat jadi orang yang
ga berguna dan ga ngerepotin orang,” sekarang omongan beliau masih terngiang di telinga
saya. Kadang ketakutan yang saya rasaiin sekarang ini, saya fikir lagi, padahal belum terjadi
tapi kenapa saya udah takut dan pesimis duluan?


Takut ga hanya tentang ketika pernah berfikir kelak kamu akan jadi orang ga
berguna, tapi, takut bisa datang ketika masa lalu yang dipunya tidak seiindah rumput
tetangga. Ada seseorang yang punya masa lalu begitu hitam, begitu kelam dan beliau
sekarang udah berubah, tapi, ada tapinya, ketakutan akan masa lalu yang udah ia kubur
dalem-dalem tetep aja menghantui, sad truth the past will always be haunts us like a tiger
haunts a deer
, ketakutan akan terungkapnya masa lalu yang telah dikubur dalem kotak yang
dikunci dengan kombinasi paling sulit muncul karena tanggapan orang sekitar ketika
mengetahui masa lalu yang disimpen rapat-rapat, padahal, belum tentu orang-orang tersebut
mempermasalahkan masa lalu tersebut. Takut ga diterima masyarakat. Same point different
cases, belum terjadi, tapi udah ketar-ketir ketakutan.

Fuck fear

Tau, gak? Lari dari ketakutan itu sama perbandingannya dengan lari di treadmill,
pusat gravitasinya hanya akan berputar dititik itu aja, gak akan kemana-mana. Ketakutan yang
terus mengejar dan kita yang terus berlari. Takut itu manusiawi, sangat luar biasa manusiawi,
semua orang pernah takut, takut akan ekspektasi orang, takut akan masa lalunya terungkap ke
permukaan, takut akan diri sendiri. Tapi, apakah menyikapi ketakutan harus dengan terus
belari? Harus dengan selalu menutupi? Atau harus selalu dengan pura-pura bodo amat tapi
tiap malem selalu kepikiran? Mungkin, semua orang—bahkan saya pernah berada ditahapan
tersebut.


Melalui tulisan ini, untuk semua orang yang baca—bahkan yang belum baca, saya
mau bilang, ketakutan akan terus bertambah seiring dengan umur yang terus bertambah, bumi yang terus berotasi dan matahari yang timbul dan tenggelam. Faktor atas munculnya
ketakutan tersebut berbeda-beda, tapi, secara subjektif satu-satunya cara untuk melawan dari
ketakutan itu adalah berhenti untuk berlari dan mulai menghadapi. Gaada yang mudah, karena
semuanya dimulai dengan susah, sesuai kata pepatah berakit-rakit dahulu, berenang
kemudian, bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian
.


Untuk yang takut akan masa lalu, the past wont ever be changed, the future is yet in
your power.
Yang menerima akan tetap tinggal, yang tidak bisa akan pergi dan diganti dengan
yang baru. Dengan yang lebih mengerti dan bisa menemani. Untuk yang takut dengan masa
yang akan datang, there will always surely gonna be another mountain, sudah mendaki yang
satu, selalu muncul lain. Hadapi, karena Tuhan selalu punya rencana. Sekarang bagaimana
kalian menyikapi, apakah dengan terus berlari atau mulai menghadapi dan melangkah maju
secara perlahan?

Zulfah Sela

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Phara Theory | World Emotion Archives

World Emotion Archives | Phara Theory Cloth & Merchandise

Close

Sign in

Close

Cart (0)

Cart is empty No products in the cart.

Phara Theory | World Emotion Archives

World Emotion Archives | Phara Theory Cloth & Merchandise



Currency