Preloader

Keinginan Saya Atau Keinginan Kalian?

Pengin idealis, tapi bingung. Membangkang takut durhaka.

Ada satu kali seorang Ibu pengin banget anaknya masuk jurusan IPA, katanya ketika menginjak tingkatan lebih tinggi—kuliah, bisa masuk kedokteran, minimal jurusan farmasi, deh. Ada juga, seorang Ayah yang pengin banget anaknya ketika lulus SMP langsung masuk akademi polisi, biar ketika dewasa pekerjaannya udah jelas. Keinginan orang tua tersebut sebenarnya cuma satu, sih, pengin anaknya ketika mereka udah menginjak usia pensiun, hidup anaknya dapat terjamin, gajihan tiap bulan, dapet tunjangan belum lagi jaminan kesehatan beserta dana pensiun, untung-untung bisa ngasih mereka, katanya.

Kadang, ada orang tua yang hanya sekedar menyarankan, ada juga yang menyatakan kalau apa yang mereka sarankan itu adalah sesuatu yang mutlak, hm, jatuhnya bukan saran lagi, ya? Semacam perintah. Mungkin, bagi saya—dan kamu juga tentunya, apalagi yang telah menginjak usia 20 tahun, masa-masa dimana mencari jati diri, mencari apa yang sebenarnya penting bagi hidup, saran orang tua cukup mengganggu. Entah, ya, padahal orang dulu selalu bilang, apa yang dilakukan orang tua itu adalah hal terbaik untuk anaknya, tapi, pernyataan tersebut masih relevan apa ga, ya?

Setiap keinginan yang dimiliki tiap individu berbeda-beda, baik yang terikat darah maupun tidak. Setiap individu punya keinginannya masing-masing, dalam kasus orang tua dan anak, sepertinya, orang tua menganggap anak sebagai sebuah tumbuhan yang harus mereka jaga, mereka rawat dan mereka sirami tiap hari agar tidak layu, sedangkan si anak menganggap diri dan orang tuanya adalah sebuah keluarga harimau, di mana ketika menginjak usia dewasa, sudah waktunya belajar berburu sendiri. 

Mencari jalan sendiri adalah keinginan hampir seluruh anak, faktor terkecilnya mungkin agar terlihat mandiri dan lelah menjadi beban orang tua, mencari sendiri apa yang mereka inginkan dalam hidup. Jika ingin melihat sebuah analogi, mungkin jadinya akan seperti ini: Tina adalah seorang anak yang kedua dari dua bersaudara, hidup bersama orang tuanya, Tina adalah seorang anak yang begitu penurut, dari memilih jurusan ketika SMA, bahkan ketika masuk kuliah, Tina menuruti orang tuanya untuk masuk fakultas Ekonomi, biar mudah cari kerja, katanya. Hidup Tina terjamin, dia mengikuti perkataan orang tuanya, comfort source, belum ada resiko, karena dia mengikuti perkataan orang tuanya.

Confused

Lain halnya dengan Ratih, seorang anak perempuan satu-satunya di keluarga . Menginjak SMA kelas 11, Ibunya menginginkan Ratih untuk masuk jurusan IPA agar ketika kuliah bisa masuk kedokteran, ditolak mentah-mentah oleh Ratih, selain bodoh dimata pelajaran eksak, itu bukan keinginannya. Masuk kuliah, Ratih berada di rumpun Soshum, mengambil tindakannya sendiri, mengenyahkan saran orang tuanya untuk masuk fakultas Ekonomi. Resiko milik Ratih besar, karena dia memilih jalannya sendiri, belum tentu apa yang inginkan itu sebenarnya benar, akan tetapi, Ratih tahu apa ia inginkan, she discovers the truth of her own path, discovers herself.  

Dibalik keinginan selalu ada alasan, karena alasan sebuah hal yang subjektif, masing-masing individunya menganggap alasan sebagai sebuah perwujudan dari sikap yang baik.  Komunikasi adalah sebuah kunci untuk membuka pintu yang tertutup rapat tersebut, jika memang mempunyai keinginan yang berbanding terbalik dengan yang orang tua inginkan, maka katakanlah, sertakan alasan yang menurut kalian baik dan yakinkan orang tua, saya pun yakin, sekeras-kerasnya hati orang tua juga akan luluh. Akan tetapi, jika kalian merasa baik-baik saja dengan apa yang orang tua pilihkan orang tua kalian, kenapa tidak mencoba? Jangan perdulikan kata orang-orang yang menganggap rendah karena hanya mengikuti perkataan orang tua.

Least but not last, apa yang kamu mengambil sebuah keputusan, untuk menuruti atau membangkang, semuanya punya resiko. Tinggal bagaimana menyikapinya, entah kalian adalah Ratih ataukah Tina?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Phara Theory | World Emotion Archives

World Emotion Archives | Phara Theory Cloth & Merchandise

Close

Sign in

Close

Cart (0)

Cart is empty No products in the cart.

Phara Theory | World Emotion Archives

World Emotion Archives | Phara Theory Cloth & Merchandise



Currency