Preloader

Hiruk Pikuk Kesenjangan Romansa Perkopian Malang Raya

Kenal di media sosial berujung dengan dua gelas kopi susu, kalau tanggal muda ada rotinya.

Hujan selalu datang saat sore, di Malang turunnya hujan terasa lebih pasti daripada kejelasan sebuah hubungan, saya sendiri tidak memungkiri, hujan lebih pasti daripada janji. Janji yang dibuat ketika kamu dan dia memutuskan untuk berteduh dari deru hujan, mampir pada sebuah kedai kopi di pinggir jalan Soekarno Hatta—masyarakat yang berdomisili di Malang biasanya menyebut Suhat. Memesan dua gelas kopi, segelas V60 untuknya dan segelas kopi susu dingin untukmu, memperhatikan jalanan Suhat melalui kaca jendela, hujan semakin deras, aliran obrolan kalianpun semakin dalam. Mulai menyentuh ranah sensitif, kejelasan. Sekali lagi, hujan di Malang lebih pasti daripada sebuah janji dan hubungan.

Itu sih beberapa minggu yang lalu, sebelum semuanya mendadak berbeda, seperti hujan pada bulan Februari yang makin tidak menentu—tidak sepasti beberapa minggu belakangan. Masih di sebuah tempat perkopian di jalanan Suhat, berbeda tempat, berbeda suasana dan hanya ada satu gelas kopi susu dingin serta tenggelamnya diri ini dalam kotak elektronik canggih bernama laptop. Fikiran sebenarnya berusaha untuk fokus, berusaha bertanggungjawab pada tumpukan tugas yang tak kunjung selesai, tapi hati selalu berkhianat, mulai memikirkan kembali kejadian beberapa minggu lalu, mulai bertanya “apa yang salah, ya?”

Narasi di atas adalah sebagian besar dari fase yang sering dialami oleh remaja menuju dewasa, gugup, senang, resah kemudian kecewa. Kadang saya sendiri suka bertanya, kenapa alurnya tidak pernah berbeda? Yang diawali manis pasti berakhir dengan pahit, begitu juga dengan penghujung dari sebuah gelas Ice Cafe Latte, entah, ya, semakin disentuh sisi terdalam, semakin terasa pahitnya. Sosial media berlogo burung buncit yang sempat nangkring sebagai media sosial terbeken ketika saya SMP, kemudian tenggelam dan kembali marak satu tahun terakhir ini kembali dengan inovasi baru pengguna Twitter, yaitu autobase—untuk pengguna Twitter aktif pasti kenal banget dengan kata ini. Selain Twitter ada aplikasi yang—mungkin ya masih banyak penikmatnya, yaitu Tinder, hayo, siapa sih yang gatau Tinder? Aplikasi pencari teman hidup sampai hanya teman satu malam.

love story

Lucu, ya? Yang awalnya hanya bertemu di media sosial kemudian menjalar bertemu secara langsung. Khusus di Malang, apalagi kalau bukan di tempat perkopian, entah bertemu di tempat tujuan atau menawarkan diri untuk menjemput. Ada yang sekali bertemu, kemudian tidak bertemu lagi, kalau dilihat dari cuitan di Twitternya sih fotonya menipu—atau tidak sesuai ekspektasi, heran, memang apa sih yang diharapkan? Bertemu Kendal Jenner? Atau Tom Holland? Namun, tidak semua akan berakhir seperti itu, ada yang lanjut ke jenjang lebih serius—seperti PDKT misalnya alasannya bisa beragama, entah karena sesama penikmat kopi atau memang sesuai ekspektasi. Dan ada yang berakhir sebagai teman atau teman saja.

Media sosial, ruang obrolan daring, perkopian Malang, gelas-gelas kopi—atau kalau lagi banyak uang ditemani makanan ringan adalah elemen saksi bisu pertemuan-pertemuan yang memiliki ujungnya tersendiri, tidak hanya tentang dua orang yang tengah mencari, ada juga yang tengah lelah kemudian mencari pelarian dan ada yang suka rela menjadi tempat persinggahan sementara. Mungkin, jika mereka bisa berbicara barang sepatah kata, elemen-elemen tersebut dapat menjadi penasihat yang baik, bagaimana tidak? Terlalu banyak yang disaksikan, mulai dari, tatapan malu-malu, genggaman tangan, kalimat sayang sampai air mata. 

Di malam minggu ini, mungkin sekarang ada yang tengah duduk di kafe dengan segelas kopi susu-nya, ada yang tengah memadu kasih di sebuah kedai kopi di daerah Kendalsari, mengerjakan skripsinya dengan wajah pusing namun tetap berusaha tegar, ada yang sedang menenangkan diri dari perubahan yang tengah menerjang atau bahkan ada yang hanya diam di kamar dengan satu gelas kopi susu yang dipesan melalui aplikasi ojek daring. Yah, apapun itu, hidup layaknya minuman yang tengah kamu minum, manis di awal agak pahit di tengah, namun tetap dinikmati, kan?

Zulfah Sela

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Phara Theory | World Emotion Archives

World Emotion Archives | Phara Theory Cloth & Merchandise

Close

Sign in

Close

Cart (0)

Cart is empty No products in the cart.

Phara Theory | World Emotion Archives

World Emotion Archives | Phara Theory Cloth & Merchandise



Currency